Jalan kebenaran Ketauhidan

Selamat bergabung di Blog http://worldtauhid.blogspot.com,Semoga memudahkan kita untuk mencapai jalan menuju syurganya

Senin, 28 Februari 2011

Ketauhidan Seorang Wanita




 Ketika wanita Berkorban Demi TuhanNya 
Andai aku diizinkan berdialog dengan AllahYa.. Allah, mengapa aku harus dilahirkan di dunia ini ?tapi mengapa Engkau berikan padaku kehidupan yang keras sehingga aku merasa terhimpit dan tertindih sesak nafasku, sedih hatiku, berat langkahku untuk mengarungi kehidupan yang kejam ini
…Allah menjawab;HambaKu sayang, jangan pernah engkau takut menghadapi hidup ini karena Aku tidak pernah meninggalkanmu walau sedetik jarak antara kau dan Aku tidak lebih jauh dari pada urat lehermud an Aku tidak mungkin memberikan cobaan di luar batas kemampuanmu…Bukankah sudah pernah Ku katakan padamu: Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk-
Allah menjawab…Bukankah telah Ku turunkan pintu tauhiid? Allah pun Berfirman…Katakanlah, jika kamu [benar-benar] mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kamu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Ali Imron:31]
…Kemudian Allah Swt menambahkan…Bukankah telah Ku turunkan Al-Qur’an Al-Karim sebagai pedoman hidupmu…bukankah telah Ku berikan contoh bagi hidupmu yaitu Rasul dan NabiKu…telah Ku ciptakan langit dan bumi beserta seluruh isinya bagimu…telah Ku tebarkan Nur Illahi Ku keseluruh penjuru…Rahmat dan Hidayah senantiasa Ku tiupkan hingga rahmatan lil ‘alamiin…maka nikmat Allah manakah yang kamu dustakan?
…isi hatiku kembali bertutur…Rabb…ku akui sesungguhnya kelalaian dan kelemahanku adalah benar tetapi aku khilaf… Ya Rabb…terlalu…terlalu banyak kekhilafanku…malu aku kepada-Mu …
Allah kembali menjawab…Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.
Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa [pada hari kiamat]. Bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah sangat berat siksaan-Nya [niscaya mereka  akan menyesal.................



“Sobat Muslimah izinkan saya menceretrakan kisah sosok wanita muslimah yang berpegang teguh kepada ajaran  tauhid  Semoga muslimah sekalian bisa mengambil hikmah dan mengikuti jejak keduanya :
 
Alkisah di negeri Mesir, Fir’aun terakhir yang terkenal dengan keganasannya bertahta. Setelah kematian sang isteri, Fir’aun kejam itu hidup sendiri tanpa pendamping. Sampai cerita tentang seorang gadis jelita dari keturunan keluarga Imran bernama Siti Asiah sampai ke telinganya. Fir’aun lalu mengutus seorang Menteri bernama Haman untuk meminang Siti Asiah.
Orangtua Asiah bertanya kepada Siti Asiah, “Sudikah anakda menikahi Fir’aun ?”
“Bagaimana saya sudi menikahi Fir’aun. Sedangkan dia terkenal sebagai raja yang ingkar kepada Allah ?”
Haman kembali pada Fir’aun. Alangkah marahnya Fir’aun mendengar kabar penolakan Siti Asiah.
“Haman, berani betul Imran menolak permintaan raja. Seret mereka kemari. Biar aku sendiri yang menghukumnya !”
Fir’aun mengutus tentaranya untuk menangkap orang tua Siti Asiah. Setelah disiksa begitu keji, keduanya lantas dijebloskan ke dalam penjara. Menyusul kemudian, Siti Asiah digiring ke Istana. Fir’aun kemudian membawa Siti Asiah ke penjara tempat kedua orangtuanya dikurung. Kemudian, dihadapan orangtuanya yang nyaris tak berdaya, Fir’aun berkata, “He, Asiah. Jika engkau seorang anak yang baik, tentulah engkau sayang terhadap kedua orangtuamu. Oleh karena itu, engkau boleh memilih satu diantara dua pilihan yang kuajukan. Kalau kau menerima lamaranku, berarti engkau akan hidup senang, dan pasti kubebaskan kedua orangtuamu dari penjara laknat ini. Sebaliknya, jika engkau menolak lamaranku, maka aku akan memerintahkan para algojo agar membakar hidup-hidup kedua orangtuamu itu, tepat dihadapanmu.”
Karena ancaman itu, Siti Asiah terpaksa menerima pinangan Fir’aun. Dengan mengajukan beberapa syarat, yaitu Fir’aun harus membebaskan orangtuanya, Fir’aun harus membuatkan rumah untuk ayah dan ibunya, yang indah lagi lengkap perabotannya dan Fir’aun harus menjamin kesehatan, makan, minum kedua orangtuanya.
Siti Aisyah bersedia menjadi isteri Fir’aun. Hadir dalam acara-acara tertentu, tapi tak bersedia tidur bersama Fir’aun. Sekiranya permintaan-permintaan tersebut tidak disetujui, Siti Asiah rela mati dibunuh bersama ibu dan bapaknya.
Akhirnya Fir’aun menyetujui syarat-syarat yang diajukan Siti Asiah. Fir’aun lalu memerintahkan agar rantai belenggu yang ada di kaki dan tangan orangtua Siti Asiah dibuka. Singkat cerita, Siti Asiah tinggal dalam kemewahan Istana bersama-sama Fir’aun. Namun ia tetap tak mau berbuat ingkar terhadap perintah agama, dengan tetap melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.
Pada malam hari Siti Asiah selalu mengerjakan shalat dan memohon pertolongan Allah SWT. Ia senantiasa berdoa agar kehormatannya tidak disentuh oleh orang kafir, meskipun suaminya sendiri, Fir’aun.
Untuk menjaga kehormatan Siti Asiah, Allah SWT telah menciptakan iblis yang menyaru sebagai Siti Asiah. Dialah iblis yang setiap malam tidur dan bergaul dengan Fir’aun.
Fir’aun mempunyai seorang pegawai yang amat dipercaya bernama Hazaqil. Hazaqil amat taat dan beriman kepada Allah SWT. Beliau adalah suami Siti Masyitoh, yang bekerja sebagai juru hias istana, yang juga amat taat dan beriman kepada Allah SWT. Namun demikian, dengan suatu upaya yang hati-hati, mereka berhasil merahasiakan ketaatan mereka terhadap Allah. Dari pengamatan Fir’aun yang kafir
.
Suatu kali, terjadi perdebatan hebat antara Fir’aun dengan Hazaqil, disaat Fir’aun menjatuhkan hukuman mati terhadap seorang ahli sihir, yang menyatakan keimanannya atas ajaran Nabi Musa a.s. Hazaqil menentang keras hukuman tersebut. Mendengar penentangan Hazaqil, Fir’aun menjadi marah. Fir’aun jadi bisa mengetahui siapa sebenarnya Hazaqil. Fir’aun lalu menjatuhkan hukuman mati kepada Hazaqil. Hazaqil menerimanya dengan tabah, tanpa merasa gentar sebab yakin dirinya benar.
Hazaqil menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan tangan terikat pada pohon kurma, dengan tubuh penuh ditembusi anak panah. Sang istri, Masyitoh, teramat sedih atas kematian suami yang amat disayanginya itu. Ia senantiasa dirundung kesedihan setelah itu, dan tiada lagi tempat mengadu kecuali kepada anak-anaknya yang masih kecil.
Suatu hari, Masyitoh mengadukan nasibnya kepada Siti Asiah. Diakhir pembicaraan mereka, Siti Asiah menceritakan keadaan dirinya yang sebenarnya, bahwa iapun menyembunyikan ketaatannya dari Fir’aun. Barulah keduanya menyadari, bahwa mereka sama-sama beriman kepada Allah SWT dan Nabi Musa a.s.
Pada suatu hari, ketika Masyitoh sedang menyisir rambut puteri Fir’aun, tanpa sengaja sisirnya terjatuh ke lantai. Tak sengaja pula, saat memungutnya Masyitoh berkata, “Dengan nama Allah binasalah Fir’aun.”
Mendengarkan ucapan Masyitoh, Puteri Fir’aun merasa tersinggung lalu mengancam akan melaporkan kepada ayahandanya. Tak sedikitpun Masyitoh merasa gentar mendengar hardikan puteri. Sehingga akhirnya, ia dipanggil juga oleh Fir’aun.
Saat Masyitoh menghadap Fir’aun, pertanyaan pertama yang diajukan kepadanya adalah, “Apa betul kau telah mengucapkan kata-kata penghinaan terhadapku, sebagaimana penuturan anakku. Dan siapakah Tuhan yang engkau sembah selama ini?”
“Betul, Baginda Raja yang lalim. Dan Tiada Tuhan selain Allah yang sesungguhnya menguasai segala alam dan isinya.”jawab Masyitoh dengan berani.
Mendengar jawaban Masyitoh, Fir’aun menjadi teramat marah, sehingga memerintahkan pengawalnya untuk memanaskan minyak sekuali besar. Dan saat minyak itu mendidih, pengawal kerajaan memanggil orang ramai untuk menyaksikan hukuman yang telah dijatuhkan pada Masyitah. Sekali lagi Masyitoh dipanggil dan dipersilahkan untuk memilih, jika ingin selamat bersama kedua anaknya, Masyitoh harus mengingkari Allah. Masyitoh harus mengaku bahwa Fir’aun adalah Tuhan yang patut disembah. Jika Masyitoh tetap tak mau mengakui Fir’aun sebagai Tuhannya, Masyitoh akan dimasukkan ke dalam kuali, lengkap bersama kedua anak-anaknya.
Masyitoh tetap pada pendiriannya untuk beriman kepada Allah SWT. Masyitoh kemudian membawa kedua anaknya menuju ke atas kuali tersebut. Ia sempat ragu ketika memandang anaknya yang berada dalam pelukan, tengah asyik menyusu. Karena takdir Tuhan, anak yang masih kecil itu dapat berkata, “Jangan takut dan sangsi, wahai Ibuku. Karena kematian kita akan mendapat ganjaran dari Allah SWT. Dan pintu surga akan terbuka menanti kedatangan kita.”
Masyitoh dan anak-anaknyapun terjun ke dalam kuali berisikan minyak mendidih itu. Tanpa tangis, tanpa takut dan tak keluar jeritan dari mulutnya. Saat itupun terjadi keanehan. Tiba-tiba, tercium wangi semerbak harum dari kuali berisi minyak mendidih itu.
Siti Asiah yang menyaksikan kejadian itu, melaknat Fir’aun dengan kata-kata yang pedas. Iapun menyatakan tak sudi lagi diperisteri oleh Fir’aun, dan lebih memilih keadaan mati seperti Masyitoh.
Mendengar ucapan Isterinya, Fir’aun menjadi marah dan menganggap bahwa Siti Asiah telah gila. Fir’aun kemudian menyiksa Siti Asiah, tak memberikan makan dan minum, sehingga Siti Asiah meninggal dunia.
Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Siti Asiah sempat berdoa kepada Allah SWT, sebagaimana termaktub dalam firman-Nya, “Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata : “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi_mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (Q.S. At-Tahrim [66] : 11)
Demikian kisah Siti Asiah dan Masyitoh
Semoga muslimah sekalian bisa mengambil hikmah dan mengikuti jejak keduanya, meninggal dalam keadaan teguh menggenggam TAUHID.

Sobat konteks Tauhid tidak selamanya sama karna Tuhan mengetahui batas kesanggupan  setiap ciptaanNya untuk menjalani ketauhidupan yang ada pada diri umatNya ,dalam keadaan sederhanapun ketauhidan bisa terjadi tinggal bagaimana bukti keteguhan kita terhadap ketuhanan Allah swt,semuanya tegantung keyakinan sobat-sobat muslimah semua.



Kasih Ilahi

 
Sobat hati yang didasari kasi ilahi pada cinta akan membuat kita bahagia dalam hidup ini,ada beberapa jenis cinta  yang sering kita rasakan yaitu cinta manusia dan cinta Ilahi,di dalam cinta manusia, kita selalu mencoba untuk saling memiliki satu sama lain tampa memikirkan orang lain, Tetapi jika kita tidak memiliki kasih ilahi maka sangat sulit untuk kita menciptakan kasih kariunia di dalam diri kita dengan saling menerima dan memberi,sobat Jika tidak ada akar, maka bagaimana pohon tumbuh? Bagaimana kita bisa petik cabang atau bunga-bunga sebagai hiasan di rumah kita ? Dengan Cinta ilah Kita dapat merasakan indah bunga yang kita petik dari pohon yang tidak berakar dalam artian akan terciptanya Kasih karunia dalam kehidupan.

 Dalam cinta manusia ada permintaan setidaknya ada , harapan dan kita sering memulainya dengan permintaan,tapi saja  tetap kita mengharapkan sesuatu dari orang lain.Tetaplah  meyakinkan diri bahwa harapan ini di dasari dengan kasih ilahi Karena kita telah melakukan sesuatu untuk orang lain-yang  di dasari kasih yang tulus dan tidak mengharapkan sesuatu sebagai balasannya,cinta sama halnya  seperti permintaan atau harapan,dalam ilahi Cinta kita hanya memberikan apa yang kita miliki dan apa yang kita berikan karna dia dalam kehidupan manusia, sebelum kita memberikan cinta kita, kita mencoba untuk menemukan cinta lain-yaitu, cinta mereka untuk kita.sedang dalam Kehidupan ilahi, sebelum kita memberikan cinta kita kepada orang lain,kita menemukan Cinta dalam realitas dan dalam diri kita sendiri,hanya kemudian apakah kita rela dalam  menawarkan cinta kepada orang lain,namun ada bentuk yang lebih tinggi dari semua itu ketika kita melampaui perasaan ilahi, dan memberikan cinta hanya demi diri dan bahkan jika cinta kita tidak diterima tetapi kita tidak keberatan karena Kita akan terus memberi, karena kita semua saling mencintai  yang bersumber dari kasih karunia,dalam cinta manusia tidak hanya  punya permintaan dan harapan,kadang-kadang kita mencoba untuk menarik diri dari orang yang setelah  menawarkan cinta kita.  

 Cinta adalah tugas di daalam kehidupan manusia , kita harus melihat tugas sebagai sesuatu yang mekanis, setiap detik kesempatan datang untuk menjemput dalam kegemibraan hidup kita,Jadi dalam Kehidupan ilahi kita harus siap menyambut tugas oleh sebab itu  tingkatkanlah kapasitas dan potensi dalam memperluas impian ilahi kita,Hidup adalah bagian pelajaran dari cinta dan  Cinta adalah pelajaran Kehidupan jika kita mempelajari pelajaran dalam kehidupan manusia yang terdiri dari takut, ragu, cemas kecemasan, dan frustrasi maka dalam Kehidupan ilahi, kita akan melihat bahwa Cinta adalah pelajaran bukan hanya Kehidupan, tetapi juga untuk Kehidupan yang kekal  dan selalu memuaskan.
 
Cinta Tuhan adalah abadi dan cinta  kita adalah untuk Allah Kasih yang kekal,Allah mempunyai Cinta yang tak terbatas untuk kita bagi orang percaya dengan adanya kasih ilahi

Sobat Ini adalah pesan sebenarnya dari ilahi..........

Arti Sebuah Agama

 Kadang kala kita tidak memahami apa sebenarnya maksud agama.  Mungkin kita menerka-nerka artinya, ataupun sebagian dari kita malah itu tidak begitu penting. Yang penting menjalankannya.Apakah akan selesai sampai disitu, belum. Sebaiknya kita sebagai umat beragama tahu arti agama. Hal akan timbul bilamana orang yang tidak beragama atau kurang agamanya ingin menggoyahkan keyakinan kita sebagai umat beragama. Nah, untuk itu sekiranya kita harus tahu.Selain dari kata agama, dikenal pula kata din dari bahasa Arab dan kata religi dari bahasa Eropa. Din dalam bahasa semit (Arab) berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab kata ini mengandung arti menguasai, patuh, kebiasaan.Religi atau relegre (Latin) mengandung arti mengumpulkan, membaca. Tetapi menurut pendapat lain kata itu berasal dari religari yang berarti mengikat. Agama memang mepunyai sifat-sifat yang mengikat manusia. Intisari yang terkandung dalam istilah-istilah diatas adalah ikatan. Agama mengandung arti ikatan-ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Oleh karena itu agama diberi definisi-definisi sebagai berikut:       1.Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekutan Tuhan yang harus dupatuhi manusia.
2.Pengakuan terhadap adanya kekuatan Tuhan yang menguasai manusia.
3.Mengikat diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia dan yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia.
4.Percaya pada suatu kekuatan Tuhan  yang menimbulkan cara hidup yang tertentu.
5.Suatu sistem tingkah laku (code of conduct) yang berasal dari suata kekuatan Tuhan.
6.Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber dari kekuatan Tuhan.
7.Pemujaan terhadap kekuatan Tuhan  yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia.
8.Ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul.
    Sobat inilah sebagian Makna dari agama yang selama ini di syiarkan oleh umat,semoga tidak ada perpecahan hanya mengatas namakan AGAMA.

Minggu, 27 Februari 2011

Kitab-Kitab Allah! why not ?




  

Beriman kepada kitab-kitab Allah adalah termasuk salah satu rukun iman, sebagaimana firman Allah azza wa jalla yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisaa’: 136)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah ta’ala memerintahkan agar kita beriman kepada-Nya, kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihiwasallam, kepada kitab-Nya yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya yakni Al-Qur’an dan juga memerintahkan agar kita mengimani kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al-Qur’an. Dalam hadits dari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Hendaknya engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasu-lNya, hari Akhir dan hendaknya engkau beriman kepada qadar (takdirNya), yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim)

Sobat, perlu kita ketahui bersama bahwa keimanan kepada kitab-kitab Allah terkandung di dalamnya empat unsur, yaitu:

Pertama, adalah beriman bahwa kitab-kitab itu benar-benar diturunkan dari sisi Allah ta’ala.

Kedua, beriman kepada apa yang telah Allah namakan dari kitab-kitabNya dan mengimani secara global kitab-kitab yang kita tidak ketahui namanya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” Ayat ini menunjukkan bahwa terdapat kitab bagi setiap Rasul, akan tetapi kita tidak mengetahui seluruh namanya. Adapun kitab-kitab yang kita ketahui namanya adalah Al-Qur’an Al-Karim yang diturunkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam, Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa ‘alaihissalaam, Zabur yang diturunkan kepada Nabi Dawud ‘alaihissalaam, Suhuf Ibrohim, dan Taurat (Ada sebagian ulama yang menyatakan kitab yang diturunkan bagi nabi Musa ‘alaihissalaam adalah Taurat, ada pula yang menyatakan bahwa bagi nabi Musa ‘alaihissalaam terdapat kitab lainnya yaitu Suhuf Musa).

Ketiga, yaitu membenarkan berita-berita yang benar dari kitab-kitab tersebut sebagaimana pembenaran kita terhadap berita-berita Al-Qur’an dan juga berita-berita lainnya yang tidak diganti atau dirubah, dari kitab-kitab terdahulu (sebelum Al-Qur’an).

Keempat, yaitu mengamalkan hukum-hukum yang tidak dihapus (nasakh) serta dengan rela dan pasrah menerimanya, baik kita ketahui hikmahnya atau tidak. Ketahuilah saudariku, bahwa seluruh kitab yang ada telah terhapus (mansukh) dengan turunnya Al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan Kami telah turunkan kepadamu Alquran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai muhaimin terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (QS. Al-Maa’idah 5:48). Artinya, Al-Qur’an sebagai ‘hakim’ atas kitab-kitab yang ada sebelumnya. Maka tidaklah diperbolehkan untuk mengamalkan hukum apapun dari hukum-hukum terdahulu, kecuali yang sah dan diakui oleh Al-Qur’an.

Buah Keimanan Kepada Kitab-Kitab Allah

Setelah mengetahui bagaimana mengimani kitab-kitab Allah secara benar, maka tentunya keimanan tersebut akan berdampak bagi diri seorang muslim. Diantara buah keimanan tersebut adalah:
  1. Mengetahui pertolongan Allah ta’ala pada hamba-hamba-Nya dimana Allah menurunkan kepada setiap kaum kitab yang memberi petunjuk pada mereka.
  2. Mengetahui dengan hikmah-Nya, Allah ta’ala mensyari’atka kepada setiap kaum sesuai dengan keadaan mereka. Sebagaimana dalam firman-Nya, “Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (QS. Al-Maa’idah 5:48)
Semoga kini engkau memahamibagaimana beriman kepada kitab-kitab Allah ta’ala secara benar. Kitab-kitab yang seluruhnya adalah kalamullah yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada setiap Rasul. Tunduk dan berserah diri dengan apa yang ada pada kitab terakhir yang diturunkan yaitu Al-Qur’an dengan tanpa menafikan kebenaran yang ada pada kitab-kitab sebelumnya. Mengamalkan seluruh hukumnya tanpa memilih sebagian ayat dan menolak ayat lainnya yang ini merupakan tindakan kekufuran – na’udzubillahi min dzalik-. Semoga Allah memudahkan kita dalam menjalankan syari’at ini. Hanya Allah-lah tempat bersandar dan memohon pertolongan.

Oleh sebab itu sobat tidak ada alasan untuk bersembunyi di balik kebenaran yang ada ,sebab apapun anggapan sebagian umat mengenai kitab-kitabNya itu semua adalah keterbatasan kata-kata kita saja  karna ALLAH suda mengariskan jauh sebelum kita lahir  bahwa Dia akan menjaga semua Kitab-kitab yang di turunkanNya (Zabur,Taurat,Injil dan Al-Qur"an)

Nabi Muhammad dan Tauhidnya



Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala semata-mata. Tetapi tanpa bimbingan-Nya mereka tidak mampu merealisasikan ibadah ini sebagaimana yang diinginkan oleh Rabb mereka. Sehingga kita mengenal dari kisah-kisah ummat terdahulu ummat-ummat yang menyembah ciptaan langit seperti matahari, bulan dan bintang atau menyembah api atau patung dan lain sebagainya.

Dan di antara kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada hamba-Nya, Dia tidak membiarkan hamba-Nya tersesat dalam urusan besar ini. Oleh karena itu diutuslah kepada mereka para nabi dan rasul yang mengajak manusia untuk kembali kepada fitrah mereka iaitu peribadatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala semata dan juga untuk menjelaskan rincian dan pelaksanaan ibadah yang diredha’i oleh Rabb mereka Azza wa Jalla. Di antara mereka ada yang taat dan di antara mereka ada yang ingkar. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya (para rasul), yaitu: "Peringatkanlah olehmu sekalian, bahawasanya tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertaqwa kepada-Ku". (Qs. An-Nahl: 2)

Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturut-turut. Tiap-tiap seorang rasul datang kepada umatnya, umat itu mendustakannya, maka Kami perikutkan sebahagian mereka dengan sebagian yang lain. Dan Kami jadikan mereka buah tutur (manusia), maka binasalah bagi orang-orang yang tidak beriman”. (Qs. Al Mukminun: 44)

Maka diutusnya para nabi dan rasul adalah dalam rangka menegakkan tauhid dan memerangi kesyirikan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dan Nabi kita sendiri telah menunaikan hal ini dengan sebaik-baiknya. Kehidupannya selama di Makkah dan Madinah seluruhnya adalah dalam rangka mengajak ummat manusia kepada tauhid dan memerangi kesyirikan kepada Allah. Dan hal ini terus berlangsung sehinggalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala mewafatkan beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Maka siapa saja yang memperhatikan perjalanan dakwah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam akan mendapati bagaimana gigihnya beliau dalam menanamkan tauhid ke dada para shahabatnya Rhadiyallahu 'Anhum. Beliau memotivasi dan memberi peringatan, memerintah dan melarang, mengajak dan mengingkari.

Sobat Nabi Muhammad bukanlah membawa ajaran atau kepercayaan baru tapi Rasulullah hanya meneruskan apa yang di perintahkan Adam,Ibrahim,Musa,Nuh dan Isa as begitu juga dengan Nabi-Nabi lainya jadi k ita sebagai penerus ajaran Muhammad harus memegang teguh apa yang di beritakakan ALLAH kepada Muhammad.

Isa Al-Masih DATANG ?


Sobat kita ketahui banyak persepsi dengan kedatangan Nabi Isa di hari kiamat namun akibat persepsi itu banyak orang-orang yang di hanyutkan dalam perselisihan,tetapi dalam kesempatan ini izinkan saya menunjukkan kebenaran  tentang kedatangan Nabi Isa  Al-Masih di akhir kehidupan nanti ,semoga bisa menjadi pedoman buat kita,namun semua kebenaran ada dalam Firman-Firman-Nya 

Ayat yang sering dibahas sebagai dasar turunnya kembali Nabi Isa al:
وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِّلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ
[43:61] Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.

Ayat ini menjadi hujjah dan ditafsirkan; yaitu turunnya Nabi ’Isa ’alaihis-salaam sebelum hari kiamat merupakan pertanda dekatnya hari kiamat.



إِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُواْ وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُواْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ


[3:55] (Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mutawaffika dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya".


وَإِن مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيداً

[4:159] Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya ('Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti 'Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.

penjelasan: Dan jika ada yang mengatakan bahwa Nabi ’Isa ’alaihis-salaam telah wafat, maka ini menyalahi realitas dan manthuq ayat. Pada kenyataannya, kaum Ahli Kitab sampai saat ini tidaklah beriman kepada ajaran ketauhidan Nabi ’Isa ’alaihis-salaam dimana mereka malah meyakini di luar dari ajaran Nabi Isa as di mana Berimannya Ahlul-Kitab pada ajaran ketauhidan Nabi ’Isa ’alaihis-salaam hanya terjadi kelak di akhir jaman.


sebagian besar menolak kalau Nabi Isa telah wafat, berlanjut bahwa Ahli Kitab akan beriman semua kepada Nabi Isa sebelum kematiannya. bukankah sudah jelas ayatnya mengatakan akan mewafatkan Nabi Isa, tentu saja firman ini turun ketika Nabi Isa masih hidup sehingga kalimatnya akan mewafatkan. kemudian bahwa semua ahli kitab akan beriman semua sebelum matinya, menurut mereka ini terjadi kelak menjelang kiamat. jelas ini tidak sesuai dengan ayat lain yang dikatakan memang ahli kitab itu ada yang berlaku lurus dan tidak, perihal beriman ahli kitab saya berikan gambaran bahwa Fir'aun yang telah terang-terangan berbuat kerusakan pada akhirnya juga beriman menjelang kematiannya bukan?


sementara itu, kisah lain dari hadits riwayat masih banyak perihal misi nabi Isa pada kedatangannya kedua kali al; membunuh Dajjal, babi, membebaskan pajak, bagaimana cara turunnya Nabi Isa yang dikawal malaikat dan begitu cukup mendetail kisahnya.Di dalam Quran telah disebutkan bahwa Nabi Muhammad tidak tahu apa-apa tentang masa depan, tentang hal ghaib (kecuali yang diberitahukan Allah dalam Quran)


[46:9] Katakanlah: "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan".

[6:59] Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata 


  Sobat mari kita buktikan ketauhidan dengan perbuatan yang suda  di anjur oleh Rukun Iman tampa berusaha memutar balikkan aya-ayat-Nya dengan kelembutan Lidah kita.





True Love

IKRAR CINTA

kami telah mengikrar janji
Tak akan pernah hianati ataupun
pergi dari cinta yang mengikat dan
mengusung di hati

kami tak akan pernah mengingkari janji ini
walaupun apapun yang terjadi
walaupun banyak rintangan dan goresan
karena ku bener-bener sayang ma kamu

kami tak akan memakan
apa yang telah aku muntahkan
aku yakin semua yang ku katakan
dari lubuk hati ni n bukan nafsu yang menguasai

aku sayang kamu
bukan untuk permainan atau pelampiasan
aku juga percaya akan cinta
yang pernah engkau ikrarkan

andai smua tak benar apa adanya
pasti juga ada balasan n karma
dari yang maha kuasa dan kami yakin Allah menyediakan yang terbaik











ARTI PACARAN
Sebenarnya menurut sobat "pacaran" itu apa sih? Ada banyak konsep tentang "pacaran"
di benak kita. Dalam forum diskusi pun hal ini masih menjadi perdebatan. "Pacaran"
ada yang diartikan sebagai hubungan yang dijalani ketika seorang pria dan seorang
wanita saling menyukai satu sama lain dan ingin menjajaki kemungkinan untuk
melangkah ke hubungan yang lebih serius lagi, atau sebagai status yang
me"legal"kan mereka untuk merasa bebas saat terlihat selalu berdua dan saling
mengungkapkan ekspresi sayang, atau hubungan yang dijalani sebagai kesempatan
untuk mengenal lebih dalam seseorang yang akan menjadi suami atau istri mereka di
kemudian hari.
Istilah "pacaran" sendiri memang hanya sekedar istilah, tapi yang penting adalah
 
apa motivasi dari dan apa yang dilakukan dalam fase hubungan itu.
Kalau mau jujur, pernah nggak sobat merasa lelah menjalani "pacaran" yang putus sambung, baik dengan orang yang sama atau dengan beberapa orang yang berbeda? Atau mungkin bosan menjalani "pacaran" yang hanya coba-coba, memulai hubungan spesial dengan harapan-harapan indah tentang masa depan dengan si dia, tapi ternyata di tengah jalan harus putus karena ketidakcocokan, atau karena konflik yang berkepanjangan, atau karena ternyata si dia baru ketahuan "belang"nya setelah "pacaran". Lalu apa yang anda perbuat selanjutnya? Ijinkan saya menceritakan satu kisah, dan dari kisah ini mungkin anda mendapat "modal awal" untuk mendefinisikan kembali arti dari "pacaran" yang ingin anda jalani.

 
 Aku dan pacarku  memulai semuanya dari hubungan hanya dengan pandangan sebgai teman biasa, bersama-sama dengan orang-orang lainnya. Kami terlibat dalam suatu komunitas yang sehat, yang memungkinkan kami untuk saling berinteraksi dan saling mengenal sudut pandang dan karakter masing-masing secara umum dalam kondisi yang wajar. Kemudian saya mungkin menyadari bahwa dia mulai menyukai saya tapi dia tidak terburu-buru melakukan pendekatan secara eksklusif, kami hanya mulai bercakap-cakap lebih banyak untuk mengenal stu sama lain, tapi masih dalam batas pertemanan atau persahabatan yang wajar. Tidak lupa, Waktu terus berjalan, kamipun mulai berinteraksi (baik secara berdua maupun dengan lingkungan pergaulan masing-masing),akhirnya kami menemukan bahwa ternyata  kami saling melengkapi dan kami akhirnya memutuskan untuk "pacaran", setelah saya  mengetahui prinsip hidup masing-masing, karakter, dan hal-hal esensi lain yang dibutuhkan untuk mempertimbangkan apakah dia akan menjadi pasangan yang tepat yang ingin saya nikahi kelak.
 
Tentunya dalam kenyataan yang terjadi tidak sesederhana itu, karena memang kisah setiap orang berbeda-beda. Namun dengan konsep "pacaran" seperti itu, setidaknya kemungkinan untuk jadian-bubar atau putus-sambung bisa lebih diminimalisir, karena tujuannya bukan coba-coba, tapi masa "pacaran" dipandang sebagai masa untuk mengenal lebih dalam calon suami atau calon istri. Karena masa perkenalan dan juga pertimbangan untuk berkomitmen serius itu dilakukan sebelum "pacaran", maka dengan begitu keputusan yang diambil pun serius dan sudah dipertimbangkan cukup matang.
Berbeda dengan konsep asal suka sama suka dan kenal hanya "kulit luar"nya saja
lalu cepat-cepat memutuskan untuk "pacaran". Konsep yang terakhir inilah yang
sering digembar-gemborkan banyak sebagian dari kita , yang akhirnya juga membuat banyak dari kita terpengaruh. Kalau kita melihat ada seorang pria dan wanita yang sedang "dekat", kita langsung mengajukan pertanyaan menggoda, "Kapan nih jadiannya?" atau "Udah...jadian aja... tunggu apalagi sih?" Sehingga terkesan bahwa "pacaran" itu adalah sesuatu yang remeh, yang bisa diputuskan begitu saja kalau ternyata tidak sesuai dengan keinginan atau harapan sebelumnya. Bahkan parahnya, pernikahan sekarang ini juga banyak dipandang sama seperti "pacaran", terbukti dengan maraknya kasus perceraian di lingkungan kita ... Inikah jenis relationship yang sebenarnya kita inginkan?
Dalam hubungan khusus antara seorang pria dan wanita, tentunya ada perasaan yang terlibat, tepatnya hati kita ikut terlibat. Jika sebuah hubungan yang sudah
dijalin itu diputuskan, pasti ada sebagian hati kita yang terluka. Adalah tanggung
jawab kita sendiri untuk menjaga hati kita, karena hati kita memotivasi setiap langkah kita dalam berhubungan sehat.


























Indah Pada Waktunya

 arvan-valen dating on 23 0ktober 2010

Perjalanan hidup yang penuh liku dan konflik seakan menjadi beban yang amat berat untuk dipikul dipundak kami. Melalui tahapan-tahapan ini begitu sulit untuk dilampaui, hanya dengan pasrah dan doa kepada Yang Maha Kuasa lah perjuangan hiubungan ini diserahkan. kami hanya berusaha, tapi Allah lah yang menentukan.
Ketika kita meminta setangkai bunga segar, yang ada malah kaktus jahat berduri. Ketika yang diminta binatang cantik nan lucu, diberikanlah ulat bulu menjijikan dan menggelikan.
Apabila kita berjalan di tengah padang pasir nan tandus, menemukan sumber air pun sulit sebagai penawar dahaga, sementara kita terus berjalan hingga lelah karena jauhnya perjalanan di tengah padang pasir itu. Tapi, sampai suatu saat perjalanan dipadang tandus berakhir dengan ditemukannya perkampungan, ada kehidupan. Semua itu karena setiap muara ada hulunya, ada ujung ada pangkalnya. Semua ada hikmahnya, ada kenyang setelah kelaparan, ada kesejukan setelah dahaga.

Disini hukum alam berlaku dimana kaktus yang jahat berduri hingga melukai, akan berbunga indah pada akhirnya. Ulat Bulu menjijikan dan membuat gatal akan bermetamorfosa menjadi kupu-kupu indah bebas beterbangan.

Itulah jalan-Nya, semua indah pada waktunya. Kesulitan hingga membuahkan kesedihan, kekecewaan, atau keterpurukan adalah jalan menuju kebahagiaan. Allah tidak akan memberikan apa yang kita perlukan atau apa yang kita harapkan. Tapi kami yakin Dia sedang merajut apa yang terbaik untuk hubungan ini...................................!!!

KEBENARAN MUTLAK

Beberapa Ajaran Tauhid Para Nabi Dan Rasul Dalam AL-Qur"an Dan Al-Kitab 


Tauhid diambil dari kata wahhada yuwahhidu tauhidan yang artinya mengesakan. Satu suku kata dengan kata wahid yang berarti satu atau kata ahad yang berarti esa. Dalam ajaran Islam Tauhid itu berarti keyakinan akan keesaan Allah. Kalimat Tauhid ialah kalimat La illaha illallah yang berarti Tidak ada tuhan melainkan Allah. (Qur’an 2:163; 47:19).
Tauhid merupakan inti dan dasar dari seluruh tata nilai dan norma Islam, sehingga oleh karenanya Islam dikenal sebagai agama Tauhid, yaitu agama yang mengesakan Tuhan. Bahkan gerakan-gerakan pemurnian Islam terkenal dengan nama gerakan muwahhidin (yang memperjuangkan Tauhid). Dalam perkembangan sejarah kaum muslimin, Tauhid itu telah berkembang menjadi nama salah satu cabang ilmu Islam, yaitu ilmu Tauhid, yakni ilmu yang mempelajari dan membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan keimanan terutama yang menyangkut masalah ke-Maha Esa-an Allah.

Ajaran Tauhid bukan hanya ajaran Nabi Muhammad s.a.w.w, tetapi merupakan ajaran setiap Nabi dan Rasul yang diutus Allah s.w.t. (Qur’an 21:25).

Berikut adalah beberapa ajaran Tauhid para Nabi dan Rasul yang terdapat dalam al-Qur’an dan Alkitab (Bible):

Tauhid Nabi Nuh a.s
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). (Qur’an 7:59)
Tauhid Nabi Huud a.s
Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja. (Qur’an 11:50)
Tauhid Nabi Shalih a.s
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (Qur’an 11:61)
Tauhid Nabi Syu’aib a.s
Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).” (Qur’an 11:84)
Tauhid Nabi Musa a.s
Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Qur’an 20:13-14)
Nabi Ibrahim a.s, Ishaq a.s dan Ismail a.s juga mengajarkan Tauhid
Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (Qur’an 2:133)
Tauhid Nabi Isa a.s
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (Qur’an 5:72)

Tauhid Para Nabi dan Rasul dalam Alkitab

Tauhid Nabi Musa a.s
Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia. (Ulangan 4:35)
Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! (Ulangan 6:4)
Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorangpun tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku. (Ulangan 32:39)
Tauhid Nabi Daud a.s
Sebab itu Engkau besar, ya Tuhan ALLAH, sebab tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami. (II Samuel 7:22)
Tidak ada seperti Engkau di antara para allah, ya Tuhan, dan tidak ada seperti apa yang Kau buat. Segala bangsa yang Kau jadikan akan datang sujud menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu. Sebab Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban; Engkau sendiri saja Allah. Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu. Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya; (Mazmur 86:8-12)
Tauhid Nabi Sulaiman a.s
Kemudian berdirilah Salomo di depan mezbah TUHAN di hadapan segenap jemaah Israel, ditadahkannyalah tangannya ke langit, lalu berkata: “Ya TUHAN, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit di atas dan di bumi di bawah; Engkau yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hamba-Mu yang dengan segenap hatinya hidup di hadapan-Mu; (I Raja-raja 8:22-23)
Tauhid Nabi Yesaya a.s
“Kamu inilah saksi-saksi-Ku,” demikianlah firman TUHAN, “dan hamba-Ku yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku. (Yesaya 43:10-11)
Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku. (Yesaya 44:6)
Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku, supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, (Yesaya 45:5-6)
Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, (Yesaya 46:9)
Tauhid Yesus (Nabi Isa a.s)
Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. (Markus 12:29)
Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. (Yohanes 5:30)
Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yohanes 17:3)

SOBAT Tutur kata bukanlah jaminan bahwa agama,golongan dan organisasi yang kita bangun selama ini akan menolong kita di akhir kehidupan nanti Tetapi Firman Allah yang akan menolong dan menentukan segala sesuatu sebab sampai kapanpun kodrat manusia hanyalah sebatas mengira-ngira..............BUKTIKANLAH..(arpan)