Jalan kebenaran Ketauhidan

Selamat bergabung di Blog http://worldtauhid.blogspot.com,Semoga memudahkan kita untuk mencapai jalan menuju syurganya

Minggu, 27 Februari 2011

KEBENARAN MUTLAK

Beberapa Ajaran Tauhid Para Nabi Dan Rasul Dalam AL-Qur"an Dan Al-Kitab 


Tauhid diambil dari kata wahhada yuwahhidu tauhidan yang artinya mengesakan. Satu suku kata dengan kata wahid yang berarti satu atau kata ahad yang berarti esa. Dalam ajaran Islam Tauhid itu berarti keyakinan akan keesaan Allah. Kalimat Tauhid ialah kalimat La illaha illallah yang berarti Tidak ada tuhan melainkan Allah. (Qur’an 2:163; 47:19).
Tauhid merupakan inti dan dasar dari seluruh tata nilai dan norma Islam, sehingga oleh karenanya Islam dikenal sebagai agama Tauhid, yaitu agama yang mengesakan Tuhan. Bahkan gerakan-gerakan pemurnian Islam terkenal dengan nama gerakan muwahhidin (yang memperjuangkan Tauhid). Dalam perkembangan sejarah kaum muslimin, Tauhid itu telah berkembang menjadi nama salah satu cabang ilmu Islam, yaitu ilmu Tauhid, yakni ilmu yang mempelajari dan membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan keimanan terutama yang menyangkut masalah ke-Maha Esa-an Allah.

Ajaran Tauhid bukan hanya ajaran Nabi Muhammad s.a.w.w, tetapi merupakan ajaran setiap Nabi dan Rasul yang diutus Allah s.w.t. (Qur’an 21:25).

Berikut adalah beberapa ajaran Tauhid para Nabi dan Rasul yang terdapat dalam al-Qur’an dan Alkitab (Bible):

Tauhid Nabi Nuh a.s
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). (Qur’an 7:59)
Tauhid Nabi Huud a.s
Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja. (Qur’an 11:50)
Tauhid Nabi Shalih a.s
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (Qur’an 11:61)
Tauhid Nabi Syu’aib a.s
Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).” (Qur’an 11:84)
Tauhid Nabi Musa a.s
Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Qur’an 20:13-14)
Nabi Ibrahim a.s, Ishaq a.s dan Ismail a.s juga mengajarkan Tauhid
Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (Qur’an 2:133)
Tauhid Nabi Isa a.s
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (Qur’an 5:72)

Tauhid Para Nabi dan Rasul dalam Alkitab

Tauhid Nabi Musa a.s
Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia. (Ulangan 4:35)
Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! (Ulangan 6:4)
Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorangpun tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku. (Ulangan 32:39)
Tauhid Nabi Daud a.s
Sebab itu Engkau besar, ya Tuhan ALLAH, sebab tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami. (II Samuel 7:22)
Tidak ada seperti Engkau di antara para allah, ya Tuhan, dan tidak ada seperti apa yang Kau buat. Segala bangsa yang Kau jadikan akan datang sujud menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu. Sebab Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban; Engkau sendiri saja Allah. Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu. Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya; (Mazmur 86:8-12)
Tauhid Nabi Sulaiman a.s
Kemudian berdirilah Salomo di depan mezbah TUHAN di hadapan segenap jemaah Israel, ditadahkannyalah tangannya ke langit, lalu berkata: “Ya TUHAN, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit di atas dan di bumi di bawah; Engkau yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hamba-Mu yang dengan segenap hatinya hidup di hadapan-Mu; (I Raja-raja 8:22-23)
Tauhid Nabi Yesaya a.s
“Kamu inilah saksi-saksi-Ku,” demikianlah firman TUHAN, “dan hamba-Ku yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku. (Yesaya 43:10-11)
Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku. (Yesaya 44:6)
Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku, supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, (Yesaya 45:5-6)
Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, (Yesaya 46:9)
Tauhid Yesus (Nabi Isa a.s)
Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. (Markus 12:29)
Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. (Yohanes 5:30)
Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yohanes 17:3)

SOBAT Tutur kata bukanlah jaminan bahwa agama,golongan dan organisasi yang kita bangun selama ini akan menolong kita di akhir kehidupan nanti Tetapi Firman Allah yang akan menolong dan menentukan segala sesuatu sebab sampai kapanpun kodrat manusia hanyalah sebatas mengira-ngira..............BUKTIKANLAH..(arpan)

Sabtu, 26 Februari 2011

Arvan and wailing love Valen



Andai di dunia ini tidak ada cinta, maka hidup akan serasa gersang, hampa dan tidak ada dinamika. Cinta bisa membuat sesuatu yang berat menjadi ringan, yang sulit menjadi sederhana, permusuhan menjadi perdamaian dan yang jauh menjadi dekat. Itulah gambaran kekuatan cinta.itulah yang kami rasakan saat ini dan
Cinta, ditilik dari sudut manapun selalu menarik untuk dibahas. Sejarah mencatat, ssetiap manusia selalu membecirakan cinta dari berbagai perspektifnya baik dalam bentuk roman, puisi, syair bahkan sampai dalam bentuk tulisan.
Siapa yang tidak terharu oleh cinta, berarti berjalan dalam gelap gulita”. Pernyataan ini menggambarkan betapa besar perhatian Plato pada masalah cinta, sampai-sampai dia menyebut orang yang tidak tertarik untuk membicarakannya sebagai orang yang berjalan dalam kegelapan.
Peranan kami dalam cinta serta dalam kehidupan tidak diragukan lagi pentingnya. Cinta diyakini sebagai dasar dari perdamaian, keharmonisan, ketentraman, kebahagiaan bahkan kebangkitan peradaban. Namun apa sesungguhnya cinta itu ?
Cinta tak dapat termuat dalam pembicaraan atau pendengaran kita,
Cinta adalah sebuah samudera yang kedalamannya tak terukur …
Cinta tak dapat ditemukan dalam belajar dan ilmu pengetahuan,
buku-buku dan lembaran-lembaran halaman.
Apapun yang orang bicarakan itu, bukanlah jalan para pecinta.
Apapun yang engkau katakan atau dengar adalah kulitnya;
Intisari cinta adalah misteri yang tak dapat kau buka !
Cukuplah ! Berapa banyak lagi kau akan lengketkan kata-kata di lidahmu ?
Cinta memiliki banyak penyataan melampaui pembicaraan. . .
Oleh sebab itu, kami akan memmanfaat cinta yang suda di dapatkan didasari dengan keyakinan  yang kuat.
  1. SOBAT Cinta harus melahirkan perhatian pada objek yang dicintai. Kalau kita mencintai diri sendiri, maka kita akan memperhatikan kesehatan dan kebersihan diri. Kalau kita mencintai orang lain, maka kita akan memperhatikan kesulitan yang dihadapi orang tersebut dan akan berusaha meringankan bebannya. Kalau kita mencintai Allah Swt., maka kita akan memperhatikan apa saja yang Allah ridhai dan yang dimurkai-Nya.
  2. SOBAT Cinta harus melahirkan sikap bertanggungjawab terhadap objek yang dicintai. Orang tua yang mencintai anaknya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan material, spiritual dan masa depan anaknya. Suami yang mencintai isterinya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan dan kebahagiaan rumah tangganya. Karyawan yang mencintai perusahaannya, akan bertanggung jawab akan kemajuan perusahaannya. Orang yang mencintai Tuhannya, akan bertanggung jawab untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Itulah Responsibility.
  3. SOBAT Cinta harus melahirkan sikap menerima apa adanya objek yang dicintai, kelebihannya kita syukuri, kekurangannya kita terima dan perbaiki. Tidak bersikap sewenang-wenang dan selalu berikhtiar agar tidak mengecewakannya. Inilah yang disebut respect.
  4. SOBAT Cinta harus melahirkan minat untuk memahami seluk beluk objek yang dicintai. Kalau kita mencintai seorang wanita atau pria untuk dijadikan isteri atau suami, maka kita harus berusaha memahami kepribadian, latar belakang keluarga, minat, dan ketaatan beragamanya. Kalau kita mencintai Tuhan, maka harus berusaha memahami ajaran-ajaran-Nya.
Kalau empat unsur ini ada dalam kehidupan kita, Insya Allah hidup ini akan bermakna. Apapun yang kita lakukan, kalau berbasiskan cinta pasti akan terasa ringan. Karena itu nabi Saw pernah bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang kalau dia belum mencintai orang lain sebagaimana dia mencintai dirinya sensiri”. “ Cintai oleh mu mahluk yang ada di muka bumi, pasti Allah akan mencintaimu”. (HR. Muslim)
Supremasi kebahagiaan tertinggi, kalau kita mampu mencintai orang lain dengan tulus tanpa pamrih, mencintai dirisendiri secaraproporsional, mencintai Allah Swt dengan penuh loyalitas dan selalu merasa dincintai-Nya. Inginkah hidup kita bermakna ? Let Love be Your Energy ! Selamat bercinta !
Andai di dunia ini tidak ada cinta, maka hidup akan serasa gersang, hampa dan tidak ada dinamika. Cinta bisa membuat sesuatu yang berat menjadi ringan, yang sulit menjadi sederhana, permusuhan menjadi perdamaian dan yang jauh menjadi dekat. Itulah gambaran kekuatan cinta.
Cinta, ditilik dari sudut manapun selalu menarik untuk dibahas. Sejarah mencatat, sejumlah seniman, teolog sampai filosop membicarakan cinta dari berbagai perspektifnya baik dalam bentuk roman, puisi, syair bahkan sampai dalam bentuk tulisan ilmiah yang bernuansa teologis, fenomenologis, psikologis ataupun sosiologis.
Filosop sekaliber Plato bahkan pernah mengatakan “Siapa yang tidak terharu oleh cinta, berarti berjalan dalam gelap gulita”. Pernyataan ini menggambarkan betapa besar perhatian Plato pada masalah cinta, sampai-sampai dia menyebut orang yang tidak tertarik untuk membicarakannya sebagai orang yang berjalan dalam kegelapan.
.
ALLAH MENGETAHUI ORANG-ORANG YANG MELAKUKAN PERBAIKAN  BEGITU JUGA DALAM BERCINTA.................................(arpan)

tauhid ubrahim

IBRAHIM BAPAK TAUHID UMAT MANUSIA

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
MENGAPA ADA PEMUJAAN KEPADA MAKHLUK
 
Faktor-faktor  yang  menimbulkan  penyembahan   manusia
kepada  ciptaan  adalah  ketidaktahuannya  dan tuntutan
alami yang  mutlak  dalam  dirinya  yang  pada  umumnya
mempercayai adanya suatu penyebab bagi setiap fenomena.
Di satu sisi, manusia, yang dikuasai oleh kodrat alami,
merasa harus mencari perlindungan di suatu tempat, pada
suatu pewenang kuat yang mampu menciptakan sistem  yang
unik  ini.  Namun,  di  sisi  lain, ketika ia bermaksud
menempuh jalan ini tanpa tuntunan  para  nabi  -pemandu
Ilahi  dan  telah  ditunjuk untuk menjamin kesempurnaan
perjalanan rohani manusia- ia mencari perlindungan pada
makhluk-makhluk  tak-bernyawa,  hewan,  ataupun  sesama
manusia  sebelum  ia  dapat  mencapai  tujuannya   yang
sesungguhnya,  yakni  Tuhan  Yang  Esa, dan mendapatkan
jejak-jejak-Nya dengan mengamati tanda-tanda penciptaan
dan  mencari perlindungan pada-Nya. Oleh karena itu, ia
membayangkan bahwa inilah  obyek  yang  dicari-carinya.
Melihat  ini,  para  ilmuwan mengakui, setelah mengkaji
kitab-kitab Ilahi dan cara bagaimana dakwah disampaikan
kepada manusia oleh para nabi serta argumentasi mereka,
bahwa  tujuan  para  nabi  bukanlah  untuk   meyakinkan
manusia   tentang   adanya   pencipta   alam   semesta.
Sesungguhnya,  peran   mereka   yang   mendasar   ialah
membebaskan manusia dan cengkeraman syirik (politeisme)
dan  penyembahan  berhala.  Dengan  kata  lain,  mereka
datang  untuk  mengatakan kepada manusia, "Hai manusia!
Allah  yang  kita  semua  percaya  akan  keberadaan-Nya
adalah  ini, bukan itu. Ia esa, bukan berbilang. Jangan
memberikan status Allah kepada makhluk. Terimalah Allah
sebagai Yang Esa. Jangan menerima mitra atau sekutu apa
pun bagi-Nya."
 
Kalimat "tiada Tuhan  selain  Allah,"  membuktikan  apa
yang  kami  katakan  di  atas. Inilah titik mula dakwah
Nabi  Muhammad.  Maksud  kalimat  ini  ialah,  tak  ada
sesuatu  yang  patut  disembah  selain  Allah,  dan ini
berarti bahwa adanya  Pencipta  telah  merupakan  fakta
yang   diakui,  sehingga  manusia  dapat  diajak  untuk
menerima  kemaha-esaan-Nya.  Kalimat  ini   menunjukkan
bahwa di mata manusia zaman itu, bagian pertama -adanya
Tuhan yang menguasai alam semesta-  bukanlah  hal  yang
perlu  dipertengkarkan.  Disamping itu, kajian terhadap
kisah-kisah Qur'ani dan  percakapan  para  nabi  dengan
umat zamannya memperjelas masalah ini.
 
[Catatan   kaki:   Tetapi,  bagaimana  konsepsi  mereka
tentang  berhala?  Apakah  mereka  memandangnya   patut
disembah  dan  hanya  untuk  menjadi perantara, ataukah
mereka berpikir bahwa berhala-berhala itu pun mempunyai
kekuasaan  seperti  Allah?  Masalah  ini berada di luar
bahasan kita sekarang, walaupun pandangan  pertama  itu
kuat dan terbukti.]
 
TEMPAT KELAHIRAN NABI IBRAHIM
 
Jawara   Tauhid  ini  dilahirkan  di  lingkungan  gelap
penyembahan berhala dan  penyembahan  manusia.  Manusia
menundukkan  kerendahan hati kepada berhala yang dibuat
dengan tangannya sendiri, atau kepada  bintang-bintang.
Dalam   situasi  ini,  hal  yang  mengangkat  kedudukan
Ibrahim dan menyukseskan usahanya adalah kesabaran  dan
ketabahannya.
 
Tempat   kelahiran  pembawa  panji  tauhid  ini  adalah
Babilon. Para sejarawan  telah  menyatakan  negeri  itu
sebagai  salah  satu dari tujuh keajaiban dunia. Mereka
telah mencatat banyak  riwayat  tentang  keagungan  dan
kehebatan   peradaban  wilayah  itu.  Sejarawan  Yunani
kenamaan, Herodotus  (483-425  SM),  menulis,  "Babilon
dibangun  di  sebuah  lapangan  persegi-panjang  setiap
sisinya 480 km (120 league), sehingga kelilingnya 1.920
km.    Pernyataan   ini,   betapapun  dibesar-besarkan,
mengungkapkan  realitas  yang   tak   terbantah-apabila
dibaca bersama tulisan-tulisan lainnya.
 
Namun,    dari    pemandangannya   yang   menarik   dan
istana-istananya yang tinggi, tak ada lagi  yang  dapat
dilihat  sekarang  selain  tumpukan  lempung, di antara
sungai Tigris  dan  Efrat,  yang  diliputi  kebungkaman
maut.  Kebungkaman  itu  kadang-kadang  dipecahkan oleh
para  orientalis  yang   melakukan   penggalian   untuk
mendapatkan informasi tentang peradaban Babilonia.
 
Nabi   Ibrahim,  pelopor  tauhid,  dilahirkan  di  masa
pemerintahan  Namrud  putra  Kan'an.  Walaupun   Namrud
menyembah   berhala,  ia  juga  mengaku  sebagai  tuhan
(dewa). Dengan memanfaatkan kejahilan rakyat yang mudah
percaya, ia memaksakan kepercayaannya kepada mereka.
 
Mungkin  nampak  agak  ganjil  bahwa  seorang penyembah
berhala mengaku pula  sebagai  dewa.  Namun,  Al-Qur'an
memberikan   kepada  kita  suatu  contoh  lain  tentang
kepercayaan  ini.  Ketika  Musa  mengguncang  kekuasaan
Fir'aun   dengan   logikanya   yang  kuat  dan  menguak
kebohongannya  dalam   suatu   pertemuan   umum,   para
pendukung   Fir'aun  berkata  kepadanya,  "Apakah  kamu
membiarkan Musa dan kaumnya membuat kerusakan di negeri
ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?"
(QS, Surah al-A'raf,  7:127).  Telah  termasyhur  bahwa
Fir'aun  mengaku  sebagai  tuhan  dan biasa menyerukan,
"Aku adalah tuhanmu yang  tertinggi."  Namun  ayat  ini
menunjukkan bahwa ia juga seorang penyembah berhala.
 
Dukungan  terbesar  yang  diperoleh  Namrud datang dari
para  astrolog  dan  penenung  yang  dipandang  sebagai
orang-orang  pintar di zaman itu. Ketundukan mereka ini
membuka  jalan  bagi  Namrud  untuk  memanfaatkan  kaum
tertindas  dan  kalangan  bodoh.  Selain  itu, sebagian
famili Ibrahim, misalnya Azar yang membuat berhala  dan
juga  memahami astrologi, termasuk pengikut Namrud. Ini
saja  sudah  merupakan  halangan  besar  bagi  Ibrahim,
karena  di  samping  harus berjuang melawan kepercayaan
umum itu, ia  juga  harus  menghadapi  perlawanan  kaum
kerabatnya sendiri.
 
Namrud telah menerjunkan diri ke dalam laut kepercayaan
takhayul. Ia telah membentangkan permadani untuk  pesta
dan   minum-minum   ketika  para  astrolog  membunyikan
lonceng bahaya pertama seraya mengatakan, "Pemerintahan
Anda  akan  runtuh  melalui  seorang putra negeri ini."
Ketakutan laten Namrud bangkit. Ia bertanya, "Apakah ia
telah  lahir  atau  belum?"  Para astrolog itu menjawab
bahwa ia belum lahir. Ia kemudian memerintahkan  supaya
diadakan  pemisahan  antara  perempuan dan laki-laki-di
malam yang, menurut ramalan  para  astrolog,  kehamilan
musuh mautnya itu akan terjadi. Walaupun demikian, para
algojonya  membunuh  anak-anak  laki-laki.  Para  bidan
diperintahkan    untuk   melaporkan   rincian   tentang
anak-anak yang baru lahir ke suatu kantor khusus.
 
Pada malam itu juga terjadi kehamilan  Ibrahim.  Ibunya
hamil   dan,   seperti   ibu   Musa  putra  'Imran,  ia
merahasiakan  kehamilan  itu.  Setelah  melahirkan,  ia
menyelamatkan  diri ke suatu gua yang terletak di dekat
kota itu, untuk melindungi nyawa anaknya tersayang.  Ia
meninggalkan   anaknya   di   suatu   sudut   gua,  dan
mengunjunginya di waktu siang  atau  malam,  tergantung
situasi.  Dengan  berlalunya waktu, Namrud merasa aman.
Ia percaya bahwa musuh tahta dan pemerintahannya  telah
dibunuh.
 
Ibrahim  menjalani  tiga belas tahun kehidupannya dalam
sebuah gua dengan lorong  masuk  yang  sempit,  sebelum
ibunya  membawanya  keluar.  Ketika  muncul  di  tengah
masyarakat, para pendukung Namrud merasa bahwa ia orang
asing.  Terhadap  hal  itu,  ibunya  berkata, "Ini anak
saya. Ia lahir sebelum ramalan para astrolog."  (Tafsir
al-Burhan, I, h. 535).
 
Ketika  keluar  dari  gua, Ibrahim memperkuat keyakinan
batinnya dalam tauhid dengan mengamati bumi dan langit,
bintang-bintang  yang  bersinar, dan pohon-pohonan yang
hijau. Ia menyaksikan masyarakat yang aneh.  Dilihatnya
sekelompok   orang  yang  memperlakukan  sinar  bintang
dengan sangat tolol. Ia  juga  melihat  beberapa  orang
dengan  tingkat  kecerdasan  yang  bahkan lebih rendah.
Mereka membuat berhala dengan tangan sendiri,  kemudian
menyembahnya.  Yang  terburuk dari semuanya ialah bahwa
seorang manusia, dengan mengambil keuntungan secara tak
semestinya dari kejahilan dan kebodohan rakyat, mengaku
sebagai  tuhan  mereka  dan  menyatakan  diri   sebagai
pemberi  hidup  kepada semua makhluk dan penakdir semua
peristiwa.
 
Nabi Ibrahim  merasa  harus  mempersiapkan  diri  untuk
memerangi tiga kelompok yang berbeda ini.
 
IBRAHIM BERJUANG MELAWAN PENYEMBAHAN BERHALA
 
Kegelapan  penyembahan  berhala  telah meliputi seluruh
Babilon, tempat lahir Nabi Ibrahim, Banyak tuhan  dunia
dan  langit  telah  merenggut  hak menalar dan berpikir
dari berbagai lapisan masyarakat. Sebagiannya memandang
tuhan-tuhan itu memiliki kekuasaan sendiri, sedang yang
lainnya memperlakukan mereka  sebagai  perantara  untuk
memperoleh nikmat dari Tuhan Yang Mahakuasa.
 
RAHASIA POLITEISME
 
Orang Arab sebelum datangnya Islam percaya bahwa setiap
makhluk dan setiap gejala tentulah  mempunyai  penyebab
tersendiri,  dan  bahwa  Tuhan  Yang  Esa  tidak  mampu
menciptakan semuanya. Pada masa itu,  ilmu  pengetahuan
memang  belum  menemukan  hubungan  antara  makhluk dan
fenomena  alami  serta   berbagai   kejadian.   Sebagai
akibatnya,  orang-orang  itu  mengkhayalkan bahwa semua
mahluk   dan   berbagai    fenomena    alami    berdiri
sendiri-sendiri  dan  tidak  ada kaitan satu sama lain.
Karena  itu,  mereka  menganggap  bahwa  untuk   setiap
fenomena  seperti  hujan  dan  salju,  gempa  bumi  dan
kematian,  paceklik  dan  kesukaran,   perdamaian   dan
ketentraman,   kekejaman  dan  pertumpahan  darah,  dan
sebagainya,  ada  tuhannya  masing-masing.  Mereka  tak
menyadari  bahwa  seluruh  alam  semesta  adalah  suatu
kesatuan,  di  mana  bagiannya   saling   terkait   dan
masing-masingnya mempunyai efek timbal balik.
 
Pikiran  bersahaja  manusia  masa  itu belum mengetahui
rahasia penyembahan kepada Allah  Yang  Esa  dan  tidak
menyadari  bahwa  Allah  yang  menguasai  alam  semesta
adalah Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahatahu, Pencipta yang
bebas  dari  segala  kelemahan  dan  cacat.  Kekuasaan,
kesempurnaan, pengetahuan, dan  kebijaksanaanNya  tiada
berbatas.  Ia  di  atas segala sesuatu yang dianggapkan
kepada-Nya. Tak ada kesempurnaan yang tidak Ia  miliki.
Tak  ada  kemungkinan yang tak dapat diciptakan-Nya. Ia
adalah Allah Yang Esa  yang  mampu  menciptakan  segala
makhluk  dan  fenomena tanpa bantuan dan dukungan siapa
pun. Ia dapat menciptakan makhluk lain dengan cara yang
sama  sebagaimana  Ia  menciptakan makhluk-makhluk yang
ada sekarang.
 
Karena itu, secara nalar, adanya perantaraan dari suatu
wewenang  yang  dapat  mengurangi  kemandirian kehendak
Allah  yang  tidak  bersekutu,  tidak  dapat  diterima.
Kepercayaan  bahwa alam semesta mempunyai dua pencipta,
yang satu merupakan sumber kebaikan dan  cahaya  sedang
yang   satu   lagi   merupakan   sumber  kejahatan  dan
kegelapan, juga tak dapat diterima.  Kepercayaan  bahwa
ada  perantaraan  oleh  seseorang,  seperti  Maryam dan
'Isa, dalam hal penciptaan  alam  semesta,  atau  bahwa
pengaturan  tatanan  dunia  fisik telah dikuasakan pada
seorang  manusia,  merupakan  manifestasi  syirik   dan
kelebih-lebihan.  Penganut  tauhid,  dengan rasa hormat
yang  sewajarnya  kepada  para  nabi  dan  orang  suci,
memelihara  keyakinan  pada  Pencipta Alam Semesta, dan
tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain.
 
Metode yang digunakan para nabi untuk memberi pelajaran
dan  tuntutan  kepada  manusia  ialah metode logika dan
penalaran,  karena  mereka  berurusan  dengan   pikiran
manusia.  Mereka berhasrat mendirikan pemerintahan yang
didasarkan pada keimanan,  pengetahuan,  dan  keadilan,
dan   pemerintahan  semacam  itu  tak  dapat  didirikan
melalui kekerasan, peperangan, dan  pertumpahan  darah.
Oleh  karena  itu,  kita  harus membedakan pemerintahan
para  nabi  dengan  pemerintahan  Fir'aun  dan  Namrud.
Tujuan  dari  kelompok  yang  kedua  ini  ialah amannya
kekuasaan dan pemerintahan mereka  dengan  segala  cara
yang  mungkin,  sekalipun  negara  akan  runtuh setelah
mereka mati.  Sebaliknya,  orang-orang  suci  bermaksud
mendirikan  pemerintahan  yang  membawa  maslahat  pada
individu maupun masyarakat, baik penguasa itu kuat atau
lemah  pada  suatu  waktu  tertentu, sementara ia hidup
maupun sesudah ia mati. Tujuan semacam itu  tentu  saja
tak dapat dicapai dengan kekerasan dan tekanan.
 
Ibrahim  pertama-tama berjuang melawan kepercayaan kaum
kerabatnya  yang  menyembah  berhala,  di   mana   Azar
merupakan  pentolannya.  Sebelum  mencapai keberhasilan
penuh dalam bidang ini, ia sudah  harus  berjuang  pada
bidang  operasi  lainnya. Taraf pemikiran kelompok yang
kedua ini agak lebih tinggi dan lebih jelas  dari  yang
pertama.  Berlawanan  dengan agama para famili Ibrahim,
mereka ini telah membuang makhluk-makhluk duniawi  yang
hina  dan  tak berharga, lalu memuja bintang di langit.
Ketika melawan  pemujaan  bintang,  Ibrahim  menyatakan
dengan kata-kata sederhana sejumlah kebenaran filosofis
dan ilmiah yang belum dipahami oleh  manusia  di  zaman
itu,   bahkan   sekarang   pun  argumennya  menimbulkan
kekaguman para sarjana yang sangat mengenal seni logika
dan perdebatan. Di atas semua ini, Al-Qur'an juga telah
mengutip argumen-argumen  Ibrahim,  dan  kami  mendapat
kehormatan untuk mengutipnya dengan penjelasan singkat.
 
Untuk dapat menuntun masyarakatnya, suatu malam Ibrahim
menatap ke langit  di  saat  terbenamnya  matahari  dan
terus   terjaga   hingga   ia  terbenam  lagi  di  hari
berikutnya.  Selama  24  jam  ini   ia   berdebat   dan
berdiskusi   dengan   tiga  kelompok,  dan  menyalahkan
kepercayaan mereka dengan argumen-argumennya yang kuat.
 
Kegelapan  malam  mendekat  dan  menyembunyikan  segala
tanda  kehidupan.  Bintang  Venus yang cemerlang muncul
dari suatu sudut cakrawala.  Untuk  merebut  hati  para
pemuja  Venus,  Ibrahim menyesuaikan diri dengan mereka
dan mengikuti garis pikiran mereka  seraya  mengatakan,
"Itu  adalah  pemeliharaku."  Namun, ketika bintang itu
tenggelam dan menghilang di suatu  sudut,  ia  berkata,
"Saya  tak dapat menerima tuhan yang tenggelam." Dengan
penalarannya yang alami, ia  menolak  kepercayaan  para
pemuja Venus dan membuktikan kebatilannya.
 
Pada  tahap  berikutnya,  matanya tertuju pada bundaran
bulan yang bercahaya terang  dengan  keindahannya  yang
memukau.  Dengan  maksud  merebut  hati  pemuja  bulan,
secara lahiriah ia bersikap  seakan  bulan  itu  tuhan,
tapi  kemudian  ia  merontokkan  kepercayaan itu dengan
logikanya yang kuat. Demikianlah, ketika Yang Mahakuasa
membenamkan  bulan  itu  di balik cakrawala, dan cahaya
serta keindahannya lenyap dari muka  bumi,  maka  tanpa
menyinggung  perasaan  para  pemuja  bulan itu, Ibrahim
berkata,  "Apabila  Tuhanku  yang  sesungguhnya   tidak
membimbing aku, tentulah aku tersesat, karena tuhan ini
terbenam seperti bintang dan tunduk pada suatu  tatanan
dan  sistem  yang pasti yang dibentuk oleh sesuatu yang
lain."
 
Kegelapan  malam  berakhir  dan  matahari  pun  muncul,
membuka cakrawala, dan menyebarkan sinar keemasannya ke
muka  bumi.  Para  pemuja  matahari  memalingkan  wajah
mereka    kepada   tuhannya.   Untuk   menaati   aturan
perdebatan,  Ibrahim  juga  bersikap  seolah   mengakui
ketuhanan   matahari.   Namun,   terbenamnya   matahari
mengukuhkan bahwa ia  tunduk  pada  suatu  sistem  alam
semesta   yang   umum,   dan   Ibrahim  secara  terbuka
menolaknya  sebagai  yang  patut  disembah.(lihat   QS,
al-An'am, 6:75-79)
 
Tak  diragukan  bahwa  saat  tinggal  di  gua,  melalui
anugerah Ilahi yang  luar  biasa,  Ibrahim  mendapatkan
dari sumber yang gaib pengetahuan batin tentang tauhid,
yang merupakan kekhususan  para  nabi.  Namun,  setelah
memperhatikan  dan mengkaji benda-benda langit, ia juga
memberikan bentuk  argumentasi  pada  pengetahuan  itu.
Dengan  demikian,  di  samping  menunjukkan  jalan yang
benar  kepada  manusia  dan  memberikan  kepada  mereka
sarana    bimbingan,    Ibrahim    telah   meninggalkan
pengetahuan yang  tak  ternilai  untuk  digunakan  oleh
orang-orang yang mencan kebenaran dan realitas.
 
sobat inilah kebenaran yang mutlak,untuk apa kita berselisih hanya karna keyakinan
 sedang suda ntaya kebenaran yang di bawa oleh Ibrahim untuk umat semesta alam (ARPAN)                       

Jumat, 25 Februari 2011

dunia tauhid

Siapa yang tidak menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat, kita semua tentu menginginkannya. Hanya yang perlu untuk kita pertanyakan bagaimana cara untuk meraih keduanya. Sementara, kita yakini bersama bahwa Islam adalah agama yang ajarannya universal (menyeluruh). Islam satu-satunya agama yang mendapatkan legitimasi (pengakuan) dari Sang Pemiliknya Jalla Sya’nuhu.
Islam adalah agama yang rahmatan lil alamiin. Tidak didapatkan satu ajaranpun dalam Islam yang merugikan para pemeluknya, tidak ditemukan satu prinsip pun dalam Islam yang mencelakakan para penganutnya. Tetapi pada kenyataannya banyak kalangan yang hanya menitikberatkan perhatiannya pada dunia dan bagaimana cara untuk mendapatkannya.
Padahal Allah telah mengingatkan kita dengan firman-Nya, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridloannya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS Al Hadid: 20).
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang mereka telah usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Huud: 15-16).
Para pembaca -yang semoga dirahmati Allah-, petunjuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah sebaik-baik petunjuk. Siapa yang mengambilnya ia akan bahagia dan yang meninggalkannya akan celaka. Allah berfirman, “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS An Nuur: 63).
Terbukti generasi yang bersamanya, yakni generasi para sahabat meraih gelar terbaik umat ini, karena mereka mengambil petunjuknya. Itulah mereka para sahabat yang telah berhasil meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Bagaimana tidak, sedang mereka mendapatkan bimbingan tauhid selama kurang lebih 13 tahun hingga akhirnya mereka memiliki landasan yang kokoh dalam kehidupannya.
Oleh karena itu, tauhid itulah sebagai landasan yang menghantarkan seseorang kepada kebahagiaan yang sebenarnya. Sebab mentauhidkan Allah adalah tujuan diciptakannya manusia. Allah berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adz Dzariyaat: 56). Ibnu Katsir berkata: makna “ya’buduun” dalam ayat ini adalah “yuwahhiduun” (mentauhidkan Allah). Al Imam Al Baghowi menyebutkan dalam tafsirnya bahwa Ibnu Abbas RA mengatakan: “Setiap perintah beribadah dalam Al Qur’an maka maknanya adalah tauhid.”
Para pembaca -yang semoga dirahmati Allah-, bagaimana tidak dikatakan bahwa tauhid sebagai landasan yang akan menghantarkan seseorang kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, sedangkan Allah meridloi ahli tauhid. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Sesungguhnya Allah meridloi kalian tiga perkara: kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, berpegang teguh dengan tali Allah semuanya dan jangan bercerai berai, dan memberikan nasihat kepada orang yang Allah jadikan pemimpin atas urusan-urusan kalian.” (HR Muslim dari Abu Hurairoh).
Itulah tauhid, tauhid adalah sebagai jalan untuk mendapatkan dua kebahagiaan tersebut, sebab dengan menegakkan tauhid berarti menegakkan keadilan yang paling adil. Sementara tujuan Allah mengutus rasul-Nya dan menurunkan kitab-Nya adalah supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Allah berfirman, “Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyatam dan telah kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (QS Al Hadiid: 25).
Tauhid sebagai landasan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat karena keamanan serta petunjuk di dunia dan akhirat hanya akan dicapai oleh para ahli tauhid. Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al An’aam: 82). Berkata Ibnu Katsir pada ayat ini: “Yaitu mereka yang memurnikan ibadahnya untuk Allah saja dan tidak berbuat kesyirikan dengan sesuatu apapun, mereka mendapatkan keamanan pada hari kiamat dan petunjuk di dunia dan akhirat.”
Jadi memang tauhidlah yang akan menghantarkan kepada kebahagiaan yang hakiki. Karena khilafah di muka bumi serta kehidupan yang damai, aman, dan sentosa berbangsa dan benegara hanya akan diraih melalui tauhid. Allah berfirman, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang sholih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi.
Sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridloinya untuk mereka. Dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, semula mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS An Nuur: 55).
Para pembaca -yang semoga dirahmati Allah-, ahli tauhid mereka orang-orang yang akan mendapatkan jaminan surga dari Allah. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa yang bertemu Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, ia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Nya dalam keadaan menyekutukan-Nya, ia akan masuk neraka.” (HR Muslim dari Jabir bin Abdillah). Ahli tauhid mereka orang-orang yang akan berbahagia dengan syafa’atnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Abu Hurairoh bertanya kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam, “Siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafa’atmu?” Beliau menjawab, “Orang yang mengatakan ‘laa ilaaha illallah’ ikhlas dari lubuk hatinya.” (HR Bukhori dari Abi Hurairoh).
Ahli tauhid mereka orang-orang yang terjaga dan terpelihara darah dan hartanya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak untuk diibadahi secara benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah, menegakkan sholat, menunaikan zakat. Jika mereka melakukannya, mereka terjaga dariku darahnya dan hartanya kecuali dengan hak-hak Islam, dan perhitungannya atas Allah.” (HR Bukhori dan Muslim dari Ibnu Umar).
Demikianlah para pembaca -kaum muslimin- tauhid adalah rahasia kebahagiaan dunia dan akhirat, karena yang pertama kali diwajibkan atas seorang hamba adalah tauhid. Allah berfirman, “Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada Ilah yang hak melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS Al Anbiyaa: 25).
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam berkata kepada sahabat Muadz bin Jabal radhiallahu `anhu ketika beliau mengutusnya ke negeri Yaman, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari Ahli Kitab. Jika Engkau mendatanginya maka serukanlah kepada mereka supaya mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah -yang berhak untuk diibadahi- kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah…” (HR Bukhori Muslim dari Ibnu Abbas radhiallahu `anhu).
Imam Al Hafizh Al Hakami mengatakan, “Kewajiban pertama atas hamba, mengenal Ar Rahmaan (Allah) dengan tauhid.” Dan tauhid juga yang menjadi kewajiban terakhir atas seorang hamba, ketika menjelang kematiannya Abu Tholib, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam datang menemuinya dan berkata, “Wahai paman, ucapkanlah ‘laa ilaaha illallah’, kalimat yang menjadi hujjah untukmu di sisi Allah…” (HR Bukhori Muslim dari Sa’id ibnul Musayyab dari bapaknya (Musayyab)).
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda, “Barangsiapa yang akhir ucapannya ‘laa ilaaha illallah’, ia akan masuk surga.” Semoga Allah memberikan taufiq kepada yang dicintai dan diridloinya. Amin ya Mujibas sailiin.
(Dikutip dari tulisan Ustadz Abu Hamzah Yusuf dari Bulletin al Wala wal Bara Edisi ke-7 Tahun ke-1 / 24 Januari 2003 M / 21 Dzul Qo’dah 1423 H. Judul asli Tauhid Rahasia Kebahagiaan Dunia dan Akhirat. URL sumber http://fdawj.atspace.org/awwb/th1/7.htm)
Sumber: http://akhwat.web.id
Diupload kembali oleh www.wahonot.wordpress.com